Novel


 Episode 1: Junot Sang Demonstran #Cerita Pagi

Silau !, sinar matahari menembus celah pentilasi kamar, mengarah tepat ke wajah Junot. Waktu sudah tepat pukul tujuh, seperti biasa jam beker tua, kado ulang tahun keenam dari Alm Jumsin, kakek junot tercinta, membangunkan anak malas ini di pagi yang cerah itu. Sembari menarik ancang-ancang hela nafas dalam, mata yang sedianya ingin terus terpejam ini, sedikit demi sedikit berjuang melawan lengketnya kotoran (cileuh: pen) dan akhirnya pun terbuka.

Kaget ! “Subhanallah”  Junot terpesona. Posisi tidur yang berubah miring (nya-ngi-gir: pen) dengan tujuan awal menghindari silaunya sinar matahari pagi, kontan menghadapkan pandangan junot yang baru melek itu pada Pas poto yang  ia pajang semalam. Foto seorang gadis manis berkerudung, dambaan hati junot (aha!), yang ia dapat lewat mendownload di jejaring social (baca: facebook) -yang sudah barang tentu tanpa seizin pemilik akunya itu (hehe: pen)-  sangat mengagetkan dan melebihbaikan hati Junot pagi itu.

Selang beberapa detik berlalu, tak kunjung henti pandangan Junot tertuju pada foto itu. Dalam, ia pandangi dalam dan mendalam (hobay). Menyadari terdapat sebercak debu yang mengusik pandanganya, menggugah lengan kiri Junot mengusap foto gadis shalihah ini seraya berkata “selamat pagi manis" (cie junot: pen)

Kemudian seperti biasa, sehabis bangun tidur, Junot terus mandi dan tak lupa menggosok gigi, dan seperti biasanya pula sehabis berhanduk dan mengeringkan rambut, ia harus dengan repot kembali ke kamar mandi lagi, untuk kedua kalinya bersentuhan dengan air, karna lupa membasuh bagian belakang telinga. (junot belaga perfeksionis: pen)

setelah kegiatan berdandan beres, sebelum beranjak dari depan cerminlagi-lagi seperti biasa terlebih dahulu Junot berkata "kamu itu perasaan, lebih cocok jadi personel boy band"  (kalimat narsis yang selalu diulang: pen) sambil mengerutkan dahi keatas dan kebawah dengan PD-nya. (gubrak: pen)

Mendapat sinyal lapar dari perut (kurubuk-kurubuk: Bunyi Perut), kedua kaki Junot pun dengan otomatis melenggang ke-arah dapur. Pasrah ia rasakan! "Namanya juga markas anak cowo, jarang-jarang ada makanan didapur" gerutu hati junot menahan lapar. Layaknya mata seokor singa yang mengincar rusa, pandanganya melanglang buana kesetiap penjuru arah dapur, mencari-cari sesuatu yang bisa dimasukan kedalam perutnya, seraya berkata dalam hati "Palu? mana enak dimakan, Piring? emangnya gue kuda lumping, cengek? buset masa makan cengek, aha! finally i get it, setoples biskuit "(horee: sorai bergembira)

Diruangan tengah, sambil asyik mengunyah biskuit penyelamat dari bahaya kelaparan, dari dalam kamar tidur, Junot mendengar nada sumbang dari kedua rekan kriminal-nya, (Ups!) senior lebih tepatnyayang masih lelap-lelapnya tertidur. Nada sumbang yang berbunyi "krokkk-krokkk prekeces"  rupanya teramat mengusik suasana pagi hari junot yang cerah itu. Bising, nyaring, suara dengkur kedua teman junot, membuat kepalanya menjadi pusing. Ditambah lagi, habisnya stok rokok(kebutuhan skala prioritas nomer wahid: pen)  adalah pelengkap derita junot pagi hari itu.


Refleks! sambil duduk bersila ditemani mulut yang masih penuh dengan biskuit, Kedua lengan suci tak bedosa junot beranjak menutupi telinga. (Yes!) Untuk sementara nada sumbang penghilang selera makan teratasi. Dengan santainya junot kembali mengunyah biskuit yang sempat terpending masuk kedalam perut.

Belum sempat junot menelan kunyahanya. TV yang sudah lebih 24 jam sengaja menyala tanpa suara, tiba-tiba menayangkan selintas Headline berita terkini, lalu dengan sekejap berakhir dengan iklan yang tidak penting. Sekilas junot membaca tayangan tadi. Tanpa lupa menelan kunyahanya, semangat ber-api-api pun, tiba-tiba dengan cepat menggelora pada jiwa anak pemalas ini.

Junot tak lagi peduli dengan nada sumbang suara dengkur kedua rekan kriminalnya, semangat ber api-api bak pejuang 45 (Merrrdeka!) memaksa Junot dengan cepat (ngorejat: pen) merangsek masuk kedalam kamar tidur. Meniru gaya operasi densus 88, Junot mendobrak pintu kamar yang padahal tidak dikunci (Junot berlebihan: pen) "Lip alip, min salmin, lip-min," sibuk! kedua lengan Junot mengoyang-goyang tubuh alip dan salmin yang lelap tertidur.

Walau membutuhkan waktu lama, akhrinya alip dan salmin terbangun. Raut wajah kesal dan heran nampak dari keduanya yang dipaksa, diseret keluar dari alam mimpi. "naon ari maneh", "isuk-isuk jiga nu burung"  komentar alip disusul salmin atas tindakan junot yang memaksa mereka keluar dari alam mimpinya masing-masing.

Seperti sinetron-sinetron tak jelas (Ups!) yang biasa penulis tonton di TV, biasanya pada momen-momen seperti ini, sang pemeran utama ( baca: Junot ) mendadak menjadi gagap. "Eta,.. naon, om,. ded"  jawab Junot dengan gagap. Sang pemilik tanya pun terheran, "maksudna naon jun"   tanya alip memperjelas. " Eta,.. om,. ded"  masih saja junot gagap. "Keheula bray, tarik nafas heula okeh, selow"  salmin berusaha menenangkan Junot. Belum selesai Junot ancang-ancang tarik nafas, bak Mercedes Ban melaju kencang di jalan tol cipularang, "om ided menang telak 65,6 persen sodara-sodara"
-

Kontan! tiga sekawan yang dapat disebut sebagai aktivis mahasiswa itu sorai bergembira. Ya! Sebut saja om ided, ia adalah incumben dalam pemilu. Mendapat kabar kemenangan om ided, tiga sekawan ini senang bukan kepalang. Mereka senang, bukan karna mereka adalah simpatisan atau TimSes om ided, atau karna om ided menang telak dalam perolehan suara sehingga dapat kembali menjabat, di periode yang ke-dua. Namun mereka senang karna, kemenangan om ided ini adalah pertanda bahwa "kesempatan berjihad masih terbuka lebar".