Nilai Dasar
Perjuangan (NDP)
Nilai Dasar Perjuangan
BAB I
Dasar-Dasar Kepercayaan
Manusia
membutuhkan suatu bentuk kepercayaan, sebab kepercayaan itu akan memebentuk dan
melahirkan nilai guna menopang hidup berbudaya. Jadi sikap tanpa kepercayaan
adalah ragu yang sempurna dan tidak mungkin dapat terjadi. Selain kepercayan
itu merupakan kebutuhan dalam waktu yang sama juga merupakan suatu kebenaran.
Dalam kenyataan dimasyarakat dapat kita temui beraneka ragam kepercayaan.
Karena bentuk-bentuk kepercayaan berbeda anatara satu dengan yang lain, sudah
tentu ada dua kemungkinan ; Kesemuanya salah atau salah satu saja yang benar.
Diasamping itu masing-masing bentuk kepercayaan mengandung unsur-unsur
kebenaran dan kepalsuan yang bercampur baur. Karena kepercayaan adalah asasi
manusia maka kepercayaan itu ada sejak manusia dilahirkan dan begitu seterusnya
secara turun temurun, yang pada perkembanganya kepercayaan diartikan sebagai
agama.
Kenapa
manusia perlu dan butuh kepercayaan ?
Untuk
menjawab pertanyaan tersebut maka terlebih dahul kita harus mengenal Esensi
manusia itu sendiri. Komponen manusia itu adalah jasad dan ruh, sedangkan asasi
manusia itu butuh rasa aman dan perlindungan. Kita mulai dari jasad : seorang
bayi yang digigit semut / nyamuk, dll dia akan menangis karena rasa amannya
terganggu sehingga dia butuh perlindungan kepada ibunya, bapaknya atau siapa
saja yang bisa melindunginya. Usaha ini disebut " Struggle for Life"
perjuangan hidup " Struggle for Existence" perjuangan mempertahankan
eksistensi. Makhluk yang dapat menyesuaikan diri itulah yang dapat
mempertahankan hidup , itulah yang disebut dengan naluri kesenangan dan
keselamatan (SS). Kenapa manusia membutukan rumah ? .........karena rumah bisa
melindungi diri dari sengatan matahari, hujan, pencuri, binatang buas, untuk
istirahat dan lain yang intinya untuk mencukupi kesenangan dan keselamatan ,
begitu manusia butuh uang , kerja, pangkat, jabatan, pasangan hidup dan lain -
lain. Itulah keperluan jasad yang bersifat material maka kebutuhanya bersifat
materi. Bagaimana dengan Ruh merupakan komponen manusia yang bersifat Gaib maka
kebutuhanya akan keselamatan dan kesenangan juga bersifat Gaib itulah awal mula
manusia butuh kepercayaan.
Perkembangan
kepercayaan
Perkembangan
peradaban manusia dengan pola hidup dan pola pikir yang masih sangat sederhana,
maka dalam mengambil keputusan pun masih sangat sederhana pula. Mula-mula
manusia mengamati gejal-gejala yang timbul disekitarnya , gejala alam misalnya
banjir melanda manusia, dengan membawa bencana dan korban, maka dengan pola
pikir dan perdaban yang masih sangat sederhana, dia menganggap alam marah
kepada kita sehingga banjir membawa malapetaka, maka dia mengadakan sesaji
sebagai rasa pengabdianya kepada kekuatan alam ini, biar diberi poerlindungan
keselamatannya. Orang yang sakit habis lewat dibatu / kayu yang besar misalnya
; wah ini kekuatan yang ada di batu / kayu yang besar itu marah, sebagai
kompensasinya dia mengadakan sesaji agar kekuatan yang berada di batu atau kayu
tidak marah. Itulah perkembangan peradaban manusia melalui kepercayaan, dengan
harapan keselamatan dan kesenangannya tidak tertanggu.
Dalam
masyarakat modern kita hadapi suasana yang lain sama sekali. Dalam kehidupan
modernlah timbul pertanyaan : perlukah manusia beragama ?..... barangkali
jawabanya beraneka ragam. Bagi masyarakat modern, barangkali tidak perlu, apa
yang diharapkan dari agama selama ini , dalam dunia modern sudah dapat dipenuhi
oleh ilmu dan teknoogi, Untuk apa lagi agama ?..................
Dulu
kalau hendak kaya orang bermohon kepada Tuhan. Sekarang orang bermohon dengan
ilmu ekonomi, maka melalui perdagangan pertanian dan peridustrian permohonan
itu akan terpenuhi . dulu kalau orang sakit bermohon kepada Tuhan. Sekarang orang
bermohon kepada dokter. Bermohon kepada Tuhan, hanya memberi orang kesabaran
menyongsong maut. Kalau hujan turun terus menerus orang dulu memohon kepada
Tuhan, agar banjir besar tidak melanda mereka, namun banjir tetap datang dengan
menghancurkan rumah dan harta benda mereka. Tapi dengan adanya ilmu dan
teknologi, maka semua itu dapat diatasinya. Itulah yang menimbulkan orang
modern menjadi ragu terhadap agama. Apabila kalau diperhatikan perbedaan yang
mencolok antara orang-orang yang tidak beragama di kota besar. Ada orang yang
taat beragama tetapi kehidupanya susah, miskin. Tetapi orang yang mengabaikan
agama tapi khidupanya makmur , dia masih terpandang dan masih banyak lagi
keunggulan-keunggulan lainya.
Ada
orang yang seseorang yang taat beragama tetapi dia sakit asma tapi taatnya
walaupun hujan gerimis ditengah malam dia tetap mengambil air wudlu, untuk
sholat malam, dengan penuh pengabdian dilakukanya, apa yang terjadi sembahyang
malam belum selesai dia sudah meninggal atau mati, karena serangan asma yang
sangat dasyat, dimana nilai pengabdianya itu? Dan masih banyak contoh-contoh
yang sepadan dengan itu yang tidak akan diungkap disini. Mari kita ikuti
pernyataan seorang Novelis Inggris " AN WILSON " dalam bukunya yang
berjudul " Againt Religion " (melawan Agama) sbb :
Dalam
Al-Kitab (Bibel) dikatakan bahwa cinta adalah kejahatan. Mungkin lebih benar
lagi dikatakan bahwa uha akar segala kejahatan, agama adalah tragedi umat
manusia. Ia mengajak kepada yang paling luhur, paling murni, paling tinggi
dalam jiwa manusianamun hampir tidak ada sebuah agama yang tidak ikut atas
berbagai peperangan tirani dan penindasan kebenaran. Mark menggambarkan agama
sebagai candu masyarakat atau rakyat. Tetapi agama lebih bahaya dari pada
candu. Agama tidak membuat orang tertidur. Agama mendorong orang menganiaya
sesamanya, untuk mengagungkan perasaan dan pendapatnya sendiri atas perasaan
dan pendapat orang lain.
Nampaknya
penyataan Wilson itu benar. Mari kita buktikan kenyataan di masyarakat : Di
Inggris dicabik-cabik oleh agama ia tidak setuju dengan keputusan Ayatullah
Khumaini (almarkhum) menghukum mati Salman Rusdie. Sepontan observatore Romano
termasuk salah satu jurnal yang menyatakan solidaritas kepada Khumaini. Padahal
Paus sendiri mengajarkan toleransi, termuat pesanya pada hari perdamaian dunia,
pada tanggal 3 februari 1991, pada waktu itu paus mengatakan : adalah esensial
bahwa menyatakan kenyakinan keagamaan masing-masing didepan umum dan dalam
semua bidang kehidupan kewargaan tetap terpelihara, kalau umat manusia memang
harus hidup dalam kedamaian. Selanjutnya mengatakan ; ancaman gawat dari
perdamaian itu adalah datang dari sikap tidak toleran yang menyatakan diri
dalam menolak kebebasan nurani kepada orang lain. Tetapi kenyataanya Paus
menghalangi orang yang tidak bersalah dan banyak dicintai masyarakat menjadi
Uskup agung Cologne, hanya karena uskup itu berani mengatakan bahwa persoalan
moral yang menyangkut pembatasan kelahiran (KB)
Dibanyak
Univeritas Katolik di Eropa, banyak guru besar terkemuka seperti Hans Kung.
Tidak diberi hak mengajar karena dia berani mempersoalkan perkara Paus yang tak
dapat salah (infalible) atau karena mereka menyuarakan pendekatan ilmiah dan
terbuka terhadap kajian-kajian Bibel. Diseluruh Jerman, Belanda, spanyol,
Inggris, Prancis dan Amerika, orang-orang Katolik harus membaca seruan bapak
suci kepada toleransi agama, tetapi dia (paus) tidak menerapkan toleransi pada
dirinya sendiri dan dimana keadilan seorang penganjur agama
?........................?
Bagi
Wilson pernyataan Paus pada hari perdamaian dunia menggambarkan dilema seorang
agamawan yang baik hati, apakah dia itu Katolik , kristen, Hindu, Muslim,
Protestan, Budis atau yang lainya. Wilson pernah mendengar Uskup ortodoks
Yunani dalam salah satu khutbahnya bahwa agamawan yang baik adalah orang yang
punya cukup iman untuk dapat menganiaya orang lain karena kekeliruan keagamaan.
Jadi seseorang agamawan yang baik acap kali mencela sikap sempit pikiran dan
tidak pernah toleran kepada orang lain yang ingin menganiayanya, namun mereka
sendiri mempertahankan hak untuk memaksa dan meyerang kepada orang yang
dianggap menyimpang. Bahkan adakalanya mereka menganggap membunuh orang yang
menyimpang itu sebagai kewajiban. Lebih lanjut Wilson mengatakan dalam
lingkungan penganut agama-agama, selalu ada potensi negatif dan perusakan yang
amat berbahaya. Sinyalemen itu biasa dianggap oleh para penganut agama, sambil
mengatakan keonaran senantiasa muncul dalam penganut agama, namun agama tidak
bisa disalahkan. Yang salah para penganutnya, kerana tidak memahami sama
sekaligus memperaktekan agama secara benar. (peserta diajak dialog). Bagi orang
yang kritis akan membalik argumen itu dengan mengatakan : kalau agama itu memang
benar, namun tidak mempu mempengaruhi para pemeluknya, lalu bagaimana
membuktikan kebenarn agam itu ?...........
Dan
apa gunanya agama yang benar namun tidak dapat mempengaruhi watak pemeluknya
?....Maka benarlah kata Wilson bahwa : agama mengajak kepada kebaikan dan
semakin orang yakin kepada agamanya adalah semakin baik. Tetapi justru orang
semakin baik itu semakin kuat memebnarkan dirinya untuk tidak toleran kepada
orang lain, bahkan merasa berhak mengejar - mengejar orang yang tidak sepahamnya
denganya. Jadi bisa disimpulkan bahwa agama merupakan salah satu sumber
keonaran.
Mari
kita teliti timbulnya gejolak, di seantero dunia : yang selalu timbul
konflik-konflik dan peperangan, dengan warna keagmaan meskipun agama bukan
satu-satunya faktor, namun jelas sekali bahwa pertimbangan keagamaan dalam
konflik-konflik itu dan dalam eskalasinya sangat banyak memainkan peranan. Kita
mulai dari Irlandia, pertentangan yang tidak berkesudahan antar kaum Kaltolaik
dan protestan. Di Bosnia Herjegovina, anatara Islam, Kristen dan Komunis. Di
Palestina dan Israil, terjadi peperangan yang tidak berkesudahan antara Islam
dan Yahudi. Iran dan Irak, antara Islam yang Syi'ah dan Islam yang Sunni. Di
India terjadi saling Bunuh antara Islam yang minorotas dan Hindu yang
mayoritas, saking fanatiknya sampai Masjid diruntuhkan. Di Sudan ada konflik
anatara Islam yang Arab dengan Kristen yang Negro. Belum lagi konflik-konflik
karena rasialisme dan faham aparthied yang mengundang berbagai tokoh keagamaan
(Keisten). Negeri Timur tengah yang lain juga diramaikan dengan konflik dengan
warna-warna keagamaan . di Sri Langka konflik keagamaan antara Islam dan Budha
dan begitu juga di Burma atau Thailand, di Philipina perang yang berkepanjangan
antara Islam yang mioritas dengan Katolik yang mayoritas, dan masih banyak lagi
darah yang tertumpah sis-sia diberbagai belahan bumi ini. Banyak yatim piatu
dan janda karena ditinggal mati berperang membela agama ?.... atau membela
harga diri ?....... konflik macam itu akan terus berlanjut karena masing-masing
akan mengaku yang paling benar, paling murni, paling berhak hidup dan paling
segala-galanya. Si Budha mengaku dia yang akan masuk surga, sedangkan agama
lain akan masuk neraka. Kalau begini caranya berlarut-larut dan berkepanjangan,
lalu siapa yang paling benar ?????...
Mencari
Agama Yang Benar
Agama
di dunia ini bukan hanya satu. Yang satu berbeda dari pada yang lain,
masing-masing agama mendakwahkan dirinya saja yang paling benar sedangkan agama
yang lain tidak benar. Sikap begini adalah logis. Apabila yang sangsi terhadap
agamanya, hal itu ia sedang bergerak meninggalkanya. Selama ia percaya akan
agama yang dianutnya, selama itu pula ia percaya, bahwa agama-agama lain itu
tidak benar. Sebab kebenaran itu adalah satu. Apabila ada putusan yang
berlawanan tentang perkara yang sama, kaidah penuturan (logika) menuturkan
bahwa hanya salah satu dari kedua itu yang benar. Ada agama yang nenpercayai
Tuhan itu Esa, adapula mempercayai lebih dari yang Esa. Tidak mungkin kedua
agam ini benar semua. Hanya satu saja yang benar.
Untuk
memahami hukum pertentangan yang diajarkan oleh logika itu, kita ambil misal
yang sederhana. Ada dua pemberitaan tentang diri tuan. Yang pertama mengatakan
tuan ada di kantor, yang kedua mengatakan tuan berada di pasar pada waktu dan
jam yang sama. Mungkin dua putusan yang berlawanan tentang perkara yang sama
itu benar ?...Tidak mungkin bukan ?. Kalau tuan pada jam dan waktu yang sama,
tidak mungkin tuan berada di pasar dan sebalikya.
Diantara
puluhan, bahkan ratusan agama yang bertebaran di permukaan bumi ini, yang satu
berbeda dengan yang lain, yang satu berlawanan dengan kepercayaanya, hubungan
dengan yang kudus, doktrin dan sikap hidup, dengan yang lain, norma logika
menentukan hanya satu dari jumlah itu yang benar.
Tiap
agama mengandung doktrin suruhan dan larangan. Menyuruh penganutnya untuk
berbuat baik dan melarangnya untuk berbuat jelek, namun apa yang baik dan yang
buruk itu berbeda antara satu agama dengan agama yang lain. Sedangkan nilai itu
bukan fakta, yang melakukan penilaian adalah kalbu. Karena penghayatan manusia
berbeda-beda akan yang dipakai untuk menimbang baik dan buruk tu tidak sama,
suah barang tentu terjadi perbedaan nilai tentang perkara yang sama. Apa yang
baik perasan seeorang, mungkin buruk bagi orang lain dan sebaliknya. Apa yang
baik bagi kalbu yang berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, mungkin saja
buruk bagi yang berkepercayaan Ketuhanan yang maha tiga. Kesimpulanya memang
setiap agama menyuruh kepada kebaikan, melarang dari pada yang buruk, tetapi
tiap agama berbeda dalam penilaianya tentang yang baik dan yang buruk.
Dalam
pembahasan diatas dapat kita membetulkan ungkapan yang sering kita dengar
tentang agama, bahwa tiap-tiap agama itu sama benar. Yang benar adalah
tiap-tiap agama sama-sama baik, tetapi tidak sama-sama benar. Hanya satu agama
yang benar. Lalu yang manakah yang benar ?.. tentu pertanyaan itu tidak mungkn
diajukan pada agama itu sendiri. Karena yang beragama adalah manusia, dan
perbedaan manusia dengan makhluk lain adalah akalnya, sepatutnya petanyaan itu
diajukan pada akal manusia. Jawaban akal terhadap perkara-perkara yang nyata
dituntut oleh norma-norma logika. Maka dalam menjawab, yang manakah agama yang
benar ? kita pakai logika sebagai pendasaran jawaban.
Ciri
ketiga, agama adalah doktrin yang mengajarkan tentang siapa, bagaimana, dan
bberapa jumlah yang kudus itu, tata hubungan dengan Dia dan sikap hidup.
Doktrin yang benar adalah doktrin yang diturunkan sendiri oleh yang kudus itu.
Doktrin yang dibentuk oleh akal (pmikiran, penghayatan, pengamalan dan
cita-cita) adalah brsifat filsafat. Sedangkan filsafat itu adalah nisbi yang
hanya memberikan tafsiran-tafsiran, tetap tidak memberikan kebenarn-kebenaran
yang pasti. Doktrin agama mengajarkan tentang perkara-perkara yang gaib,
terutama yang hakiki. Filsafat tidk mampu memberikan pengetahuan yang pasti
tentang perkara yang gaib itu. Dengan demikian dapat disimpulkan doktrin yang
benar adalah doktrin yang diturunkan oleh yang kudus itu sendiri.
Kumpulan
doktrin agama itu disebut kitab suci. Semua agama selain agama yang bersahaja
mempunyai kitab suci. Bagaimana memastikan apakah kitab suci merupakan himpunan
wahyu ataukah hasil dari filsafat ?......Wahyu yang berasal dari yang kudus
bersifat mutlak, tentu pula mutlak ajaran-ajaranya mengandung kebenaran mutlak,
mengatasi ruang dab waktu, dia benar dahulu, benar sekarang dan akan datang. Ia
benar bagi semua tempat.
Agama
itu adalah untuk manusia, karena itu kebenaran ajarannya dapat diajukan oleh
akal manusia, dan ajaran itu sesuai dengan kemanusiaan. Ajaran langit ditujukan
bukan kepada manusia sebagai generasi yang berubah dan berbeda-beda, tetapi
kepada manusia sebgai umat yang mengandung sifat-sifat asli kemanusiaan.
Kebenaran
itu Nisbi dari waktu ke waktu, dari ruang ke ruang. Apa yan benar bagi suatu
tempat mungkin tidak benar bagi tempat yang lain. Apa yang dahulu dianggap
benar sekarang dapat dinafi'kan. Konsep utama, yang diajarkan oleh kitab suci
ialah tentang yang kudus, siapa dia, berapa jumlahnya, bagaiamana
atribut-atribut atau sifat-sifatny. Apabila kita kaji sejarah agama dalam
perjalanan sejarahj umat manusia, ternyata konsep itu tumbuh dan berkembang,
perubahan dari tingkat ke tingkat berikutnya, menuju kepada kesempurnan.
Mula-mula
yang dipercayai yang kudus adalah tenaga sakti (super natural power), yang
diistilahkan dengan antropologi dengan "mana", mana itu di hasrati,
karena ia dapat membantu manusia. Tetapi ia juga ditakuti, karena ia dapat juga
memberikan mudarat. Perkembangan lebih lanjut sampai pada politheisme,
dilanjutkan dengan proses pemilihan satu dewa dari jumlah dewa yang banyak,
inilah yang disebut dengan serba dewa atau "henoteisme" .
Dalam
serba banyak dewa terjadi proses pilihan, sehingga yang dipja itu satu atau
sebagaian kecil dewa saja. Dalam politeisme Hindu, Mesir dan Arab Jahiliyah,
plihan itu jatuh pada tiga dewa. Hindu : Brahmana (pencipta), Wisnu
(pemelihara), Siwa (perusak). Mesir Purba : Isiris, Isis, Horus. Arab Jahiliyah
: Al-Lata, Al-Uzza, Al-Manata Dalam penghayatan selanjutnya agama Hindu, ketiga
itu dipandang sebagai yang satu, tiga muka dari yang satu atau tiga yang satu
"TRIMURTI", dan trinitas dalam agama Nasrani. Dari proses itu
selanjutnya proses kepercayaan yang satu atau yang tunggal (monoteisme) :
1.
Monoteisme praktis : tidak mengingkari dewa-dewa lain, tetapi hanya satu saja
yang diarah atau yang disembah.
2.
Monoteisme Spekulatif: bermacam-macam dewa lebur menjadi satu gambaran dewa,
yang ahkirnya dianggap sebagai satu-satunya dewa. Watak pribadinya kurang
jelas, karena perbedaan kurang tajam.
3.
Monoteisme Teoritis : dalam teori Tuhan itu Esa, tapi praktek yang dipercayai
lebih dari satu.
Monoteisme
murni atau yang mutlak sebagai yang paling abstrak (karena tidak mungkin
diarcakan), adalah konsep yang sempurna atau yang tak mungkin di hasilkan oleh
akal. Konsep itu hanya di ajarkan oleh wahyu, dan diturunkan oleh Tuhan yang
maha Esa itu sendiri, konsep inilah yang menjadi konsep agama langit.
Bagaimana
sifat Tuhan yang maha Esa itu ?.........
Kalau
sifat-sifat tuhan yang dalam politeisme dipercayai sebagai sifat-sifat manusia
juga, tapi ditambahi oleh keistimewaan atau kelebihan-kelebihan atau keluarbiasaanya,
dia beristri, beranak, mencintai, dendam, makan, minum, bertempat dan
berpergian.Tapi sifat Tuhan agama langit itu tidak senisbi itu, sifat Tuhan itu
mutlak, demikian mutlaknyasehingga tidak bisa diperbandingkan dengan sifat
manusia. Sifat Tuhan hanya pada Tuhan itu sendiri. Unik, tidak ada duanya,
itulah yang disebut dengan yang Esa. Esa dalam jumlah, Esa dalam sifat dan Esa
dalam perbuatan.
Telah
kita ketahui konsep agama langit berasal dari wahyu, sedangkan kumpulannya
disebut kitab suci, maka berikut akan kami cuplikan beberapa penelitian kitab
suci :
Kitab
suci agama Yahudi adalah Tauraut, Kitab suci agam Nasrani adalah Injil, yang
kedua adalah Bibel. Telah dibuktikan oleh ilmu sejarah bahwa kedua kitab suci
terebut telah menglami perubahan. Penemuan arkeologi, yakni berupa
lembaran-lembaran suci di lembah Qumra yang terkenal dengan sebutan "The
Dead Sea Scrol" menambah bukti penemuan itu. Tata berfikir dan merasa
orang Yahudi hanya teruntuk bangsa Yahudi tidak bagi umat manusia. Demikian pula
tata nilai yahudi tidak berlaku bagi yang bukan Yhudi. Konsep agama Nasrani
bukan monoteisme murni, elainkan monoteisme nisbi. Tuhan itu memang satu tetapi
trdiri ari tiga oknum, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Manusia
yang sempurna yang dituju oleh kedua agama itu bersifat nisbi , kedua agama itu
banyak tidak rasionalnya dari pada rasionalnya. Ajaran kedua agama berlawanan
dengan ilmu, karena itu bersifat rasional. Putusan Konseli (konferensi agama)
dalam pandangan Nasrani dipandang sama dengan kitab suci. Dalam hal ini
bermakna keputusan akal setingkat dengan wahyu. Pimpinan agama dalam Katolik,
yang tentu harus dipandang sebagai teladan manusia sempurna, tidak menyatkan
manusia sepenuhnya, karena itu ia tidak kawin. Perkara yang gaib yang diajarkan
oleh Nasrani tidak memuaskan pikran sehat. Adapun dalam agam Hindu, Budha sudah
runtuh pada pernyataan proses evolusi berfikir sampai monoteisme jadi tidak
perlu dibahas lagi.
Bagaimana
dengan agama Islam ?...
Jelas
Islam kelahirannya dipastikan, karena Islam diturunkan 17 Ramadlan tahun
kesepuluh dari tahun gajah bertepatan dengan 6 agustus 610 M, selesai
diturunkan 23 tahun sesudah itu. Agam, Islam dtunkan lewat utusan Nabi Muhammad
SAW. Agama Islam memiliki kitab suci yatu AL-Qur'an, bahasa kitab ini bertahan
sampai sekarang, tetap dalam bahsa Asli , bahasa yang dipakai untuk menurunkan
wahyu-wahyu Tuhan. Jumlah kata dalam Alqur'an semenjak di permaklumkan oleh
Rasulullah sampai sekarang bertahan tetap, yakni 74.439 kata. Sistem yang ketat
dalam penyalinan diatur seketat mungkin, untuk menghindati kepalsuan. Jadi
kalau ada tambahan satu kata akan ketahuan karena banyak yang hafal ayat
Alqur'an dan tambahan atau pengurangan dihukumi palsu, dan harus dimusnahkan.
Alquran telah diuji kebenarannya oleh ilmu sejarah.
Wallahu
'alam bi al-shawab